Kamis, 24 April 2014

Contoh Naskah Othelia versi aku



Othelia 

Pangeran Roberto (Pangeran dari kerajaan Denmark) PR = baik, bijaksana, ramah(protagonist)
Luciana (gadis biasa) LC + ilustrasi =baik, ramah(protagonist)
Putri Ophelia (putri dari kerajaan) OP + ilustrasi =antagonist
Ratu Gertrude (ibu Ophelia) RG + Ilustrasi =bijaksana, baik, adil, rela berkorban(protagonist)
Claudius (pengawal pangeran) CLS +ilustrasi = tritagonis
Desdemona (Ibu Luciana) DM + ilustrasi = tritagonist
Emilia (dayang Putri Ophelia dan selalu bersama Ophelia.) EML + ilustrasi =antagonist
Narator + ilustrasi =tritagonis



Adegan 1

*Pada suatu hari, pangeran Roberto berjalan  di sebuah hutan  dekat dengan kerajaan di Denmark bersama pengawalnya, Claudius.
PR: “(sedang berjalan)”
LC: “la la la lala…”
PR: “siapa itu?” (menuju Luciana dan memegang bahunya)
LC: “(terkejut) kamu siapa?”
PR: “Nama saya Roberto. Dan namamu?’
LC: Roberto? Apakah engkau pangeran kerajaan Denmark? Kesenangan saya dapat bertemu dengan anda, nama saya Luciana, saya tinggal di desa dekat hutan ini.”
PR: “iya, benar sekali, saya dalah pangeran dari kerajaan ini”
LC, PR: (berbincang bincang sambil tertawa)
OP: “ siapa itu? Gadis desa? Mengapa dia dekat dengan pangeranku?”(dari tadi mengintip di sebuah     pohon). Emilia, apa kau mengenal gadis itu?”
EML: “iya putri, saya mengenalnya. Ia adalah gadis desa dekat hutan ini, ia bernama Luciana.”
OP: “hah? Gadis desa? Semua ini tidak bisa dibiarkan. Emilia, bantu saya untuk menjauhkan dia dengan pangeran.”(sinis)
CLS: “Pangeran, saatnya kita kembali ke istana.”
PR: “Baiklah…” “luciana, bisakah kita bertemu di sini di tempat ini?”
Luciana: “Baiklah, Roberto.”

Adegan 2

*Sesampainya di rumah, Luciana terlihat sangat senang.
DM: “Apa yang terjadi, Luciana? Kau terlihat sangat senang?”
Luciana: “Tidak kenapa-kenapa, ibunda..” (senang)
DM: “Kalau kau tidak kenapa-kenapa, kenapa kau menari ke sana kemari sambil menyanyi?
LC: “Sebenarnya, tadi  saya bertemu dengan pangeran dan dia menyapa saya dengan ramah. Maka dari itu saya senang.”
DM: “ jadi begitu. Terus, apa yang akan kau lakukan?”
LC: “Besok, saya akan bertemu dengannya di tempat kita bertemu.”
DM: “baiklah, kau boleh ke hutan besok.”
LC: “terima kasih, ibunda.”

Adegan 3

*Keesokan harinya, mereka bertemu di tempat yang sama dan waktu yang sama.
PR: “Luciana, apakah kau ingin pergi ke pesta pengangkatan raja di kerajaanku?”
LC:” pesta? Apakah saya boleh masuk ke pesta kerajaan seperti itu? Lagi pula saya tidak mempunyai gaun yang bagus untuk pergi ke sana” (sedih)
EML: “Mana mungkin Luciana bisa ke pesta itu, yang bisa masuk kan hanya bangsawan dan dayang sepertiku ini.”
LC: “Emilia, kau ini kenapa? Bukankah kita teman baik? Mengapa kau menjadi seperti ini?”
EML: “Karena kau menyebalkan. Kau selalu mengambil sesuatu yang seharusnya bukan milikmu.”
OP: (mendekati Luciana dan Roberto)” Benar yang dikatakan emilia. Lagipula , kau tidak mempunyai gaun yang bagus, kau kan gadis desa.” (sinis)
PR: “apa maksudmu, Ophelia?” (marah)
OP: “ya maksudku dia itu tidak pantas bersamamu, pangeranku. Lagipula kita kan bangsawan, mana mungkin bisa bersama dengan orang biasa.”
PR: “putri Ophelia, saya tegaskan kembali bahwa saya tidak menilai seseorang dari jabatan, keturunan, dan kekayaan, tetapi saya menilai orang dari ketulusan hatinya. Maka dari itu, apapun yang terjadi, saya akan membuat Luciana bersama denganku.”(bijaksana)
OP: (kesal dan menatap Luciana dengan sinis)


Adegan 4

*hari pesta kerajaan itupun tiba.
CLS: “Yang mulia Gertrude sudah datang…..”
GR: (berjalan menuju istana)
*para tamu yang melihat yang mulia pun menghormatinya.
PR: (menuju ratu Gertrude) “ yang mulia, kesenangan saya bertemu dengan anda, ratu kerajaan swedia, ratu Gertrude.”
CLS: “kesenangan dan kehormatan saya serahkan kepada pangeran Roberto dan ratu Gertrude bersama para tamu.”
GR: ‘kuterima kesenangan dan kehormatan kalian dengan sepenuh hati.”
CLS: “Pengangkatan pangeran denmark menjadi raja akan segera di mulai…”
PR: “mohon maaf, yang mulia. Bisakah saya meninggalkan yang mulia sekarang?
GR: “silahkan.”
*Upacara pengangkatan raja pun dimulai dengan suasana kejayaan menemani istana yang megah ini.
*upacarapun selesai dan Pangeran Roberto menjadi penerus takhta kerajaan Denmark.
PR: “saya meminta maaf karena telah meninggalkan yang mulia.”
GR: “kuterima permintaan maafmu.”
LC: (berjalan sambil melihat-lihat bersama ibunya, Desdemona)
PR: permisi ratu. (mendekati Luciana dan membawanya ke hadapan ratu)
PR: “Yang mulia, saya sebagai raja kerajaan Denmark ini ingin mengkonfirmasi tentang hubungan saya dengan Luciana karena saya telah berjanji dengan luciana setelah saya menjadi raja, saya ingin menjadikan Luciana sebagai ratu dari kerajaan denmark, maka dari itu saya ingin yang mulia mengetahuinya sebagai orang tua yang telah mengasuh saya setelah ayahanda dan ibunda saya meninggalkan saya.”
GR: “Jika itu adalah jalan yang kau pilih, saya sebagai ratu swedia dan orang tua asuhmu mengizinkan jalan yang kau pilih, pangeran atau yang bisa saya katakana Raja Denmark, Roberto. Dan ibunda Luciana, desdemona, apakah kau mengizinkan anakmu bersama Roberto?”
DM:   “saya mengizinkannya dengan sepenuh hati saya karena itu membuat Luciana bahagia.”
LC: “Ibu..”
GR: “baiklah, kuterima dan kuizinkan dengan sepenuh hati saya.”
LC: “terima kasih ibunda, yang mulia Gertrude.”
PR: (tersenyum)
*putri Ophelia pun menghampiri mereka.
OP: “Apa maksudmu, ibunda? Apa kau ingin membuat anakmu ini sedih?”
GR: “maafkan ibunda, Ophelia. Ibunda tidak bisa memaksakan takdir kepada Roberto.”
OP: “Luciana, apakah kau benar-benar ingin bersama pangeran?
LC: (menghela nafas) “ya, putri Ophelia”
OP: “jika begitu, aku hanya perlu membunuh pangeran Roberto agar pangeran tak bisa didapatkan oleh orang lain!” (ingin mencekik Roberto)
PR: (terkejut).
GR: (menghentikan Ophelia) “apa yang kau pikirkan, Ophelia? Kau ingin membunuh pangeran?”
OP: “ya, aku ingin membunuhnya!” (hilang kendali)
GR: (menangis), (menghela nafas sambil tersenyum)
GR: “kalau itu keinginanmu, maka ini yang harus kulakukan.” (menaruh tangan ohelia di lehernya)
GR: “bunuhlah aku, Ophelia. Keluarkan semua dendammu kepadaku. Rasa bencimu, rasa kesalmu, semuanya kepadaku, Ophelia” (sambil tersenyum)\
OP: (mencekik leher ratu), “aaaaaa……!” (dendam)
GR: (tersenyum)
PR: “Apa yang kau lakukan, Ophelia. Sadarlah!” (berteriak)
OP: “apa yang kulakukan? Ibunda, bangun…..” (menyesal sambil berteriak).
GR: “Ophelia…”
OP: “ibunda? Ibunda, maafkan aku bunda… aku hilang kendali..  bunda….” (menangis)
GR: (tersenyum) “Ophelia, bisakah kau mengabulkan permintaan terakhir ibunda mu ini? Uhuk…..uhuk….” (sesak nafas)
OP: “apapun akan kukabulkan, ibunda. Walaupun itu harus kehilangan harta bahkan nyawaku sendiri.”
GR: “Jangalah kau menyayangi seseorang terlalu besar karena itu akan membawamu menjadi membencinya dan kebencian akan membawamu ke dunia yang gelap dan kelam. Apabila kau membenci seseorang, maafkanlah dia karena hati yang bisa memaafkan akan membawamu ke dunia yang terang dan nyaman. Maka dari itu, Ophelia teruslah ikuti cahaya agar hidupmu bahagia….” (tersenyum)
OP: “baiklah bunda, akan ku ikuti cahaya yang kau inginkan.”
GR: (memegang Ophelia dan menutup mata dengan rasa bahagia)
*setelah ratu Gertrude meninggal dunia, Ophelia pun sadar dan menjadi orang yang baik dan ia menjadi ratu swedia. Selain itu, pangeran Roberto dan Luciana pun menjadi raja dan ratu di kerajaan Denmark. Semua ini terjadi karena ratu mengorbankan nyawa dan kehidupannya yang bahagia berhenti dan memberikan pelajaran berharga kepada kita semua. Seperti kata ratu yang tidak akan terlupakan sebelum ia wafat yaitu.                                                                                                                
 “teruslah ikuti cahaya agar hidupmu bahagia….”