Ingat,
Karma Itu ADA
![]() |
| source: https://www.pinterest.com/pin/462674561695223798/ |
Kupejamkan
kedua mataku perlahan, kutarik nafas dalam-dalam sembari mengeluarkan dengan
penuh khidmat. Dengan kesadaran yang masih kumiliki, kuingat kembali masa-masa
terkelamku, masa-masa yang menyedihkan dalam hidupku hingga ku menangis
tersendu dalam hatiku. Mataku melihat episode-episode itu, Telingaku mendengar Teriakan bak bel sekolah
yang rusak, hantaman tanpa henti. Telinga dan mataku yang malang, kau yang dulu
putih menjadi abu kehitaman. Teringat dalam otakku bayang-bayang yang
melemaskan seluruh organ tubuhku. Tanpa kusadari,bahwa semua yang kulihat,
kudengar, dan kurasakan saat itu adalah apa yang mereka namakan-- Karma.
Sore
sepulang sekolah, Nampak hujan dan petir tak henti-hentinya turun dan menyambar
di langit berwarna biru kehitaman itu. Ketika sampai di rumah, aku merasa biasa
saja dan aku pun tidak merasakan suatu keanehan di rumah berlantai dua itu. Seperti
biasa, kudorong pintu dapur, masuk ke dalam rumah, aku juga tidak mendengar
atau melihat sesuatu yang aneh sampai—
Suara
teriakan sesosok wanita terdengar dari dalam rumah. Tanpa pikir panjang, aku
langsung menuju ke arah sumber suara, ruang keluarga. Sampai disana, spontan
kumelangkah ke belakang karena tak kusangka suara itu adalah suara wanita yang
tak lain yaitu kakak iparku sendiri. Badanku tak kuasa bergerak sedikitpun,
seperti tertanam es di ototku. Pesawat jet terasa menghantam jantung dan
otakku. Sungguh tak percaya, hal seperti itu akan terjadi lagi di keluarga
kecilku ini. Kulihat disamping kakak iparku terdapat mamaku yang memegangnya
dan kakakku yang melotot tajam ke hadapan mereka dan tangannya yang meremas
telapak tangan dengan erat. Merasa tak tega, berkat niat dan paksaan,
kuretakkan es di ototku, kuhancurkan pesawat jet di bayanganku, dan ku berlari
sembari memegang erat kakakku yang sedang emosi itu.
“Apa
yang kakak lakukan?! Sudah Kak Istighfar, sholat dulu lalu berdoa. Tenankan
dirimu kak. Kak Sepia juga, sholat dulu imaman sama Kakak. Dah ya sholat dulu.
Tolong sekali ini saja dengarkan adekmu ini.”
Ucapku
dengan pelan agar tak menyakiti kedua belah pihak. Awalnya mereka menolak, tetapi
akhirnya mereka setuju untuk melaksanakan ibadah wajib ini walau tidak berjamaah.
Di
waktu mereka sholat, aku menunggui Kak Sepia sembari kuterus berdoa dan
berdzikir, meminta kepada Allah agar hal seperti ini tak terjadi lagi. Kuterus
bedoa. Seusai Kakak iparku sholat, dia mengatakan untuk pulang ke rumah
orangtuanya. Kaget, langsung kuhampiri dan kugenggam erat-erat sembari menatap
lurus matanya dengan serius.
“Kak,
lihat mata Tia. Kak, tau tidak. Yang selalu kuingat dalam keluarga kecil kakak
yang hanya beranggotakan sepasang suami-istri itu bukan saat kalian berseteru
seperti ini, bukan juga saat kalian saling berdebat kusir dan saling
menjatuhkan satu sama lain. Tapi, di saat kakakku mengucapkan ijab qobulnya
dengan lantang di depan semua orang termasuk Tia. Tia merasakan keseriusan dari
suara kakakku. Dan Tia percaya bahwa kakakku sudah siap membuka pintu baru
untuk kalian berdua. Ingat, kak. Jalan yang diberikan Allah tidak pernah salah,
nantinya, pasti Allah akan memberikan episode terbaik untuk kakak. Karena Allah
MahaAdil. Ya?” Kataku sambil tersenyum walau mataku berkaca-kaca.
Mendengar
perkataanku, kakak iparku terlihat lebih tenang lalu menaruh IPhone nya ke tas dan tetap di mushola
duduk sila di atas karpet berbulu itu. Dan pada akhirnya, mereka meminta maaf
dan kembali bersama lagi walau masi ada kecanggungan di antara mereka. Kakak qiparku
dan kakakku pamit karena waktu libur mereka usai dan harus kembali ke kota
tempat mereka diwajibkan mengabdi di salah satu rumah sakitnya yaitu Kota
Batam.
Larut
malam, ketika keluargaku telah tertidur lelap, Aku menangis dengan keras. Tenggorokanku
terasa kering, telinga dan wajahku memerah bak kepiting rebus bersamaan dengan seluruh
badanku bergetar tanpa henti. Kelopak mata ini sudah tak bisa menahan air mata
yang sudah kusimpan. Air mataku terus mengucur seperti air terjun yang
membasahi seluruh daratan wajah ini. Kututup mulutku, aku teriak dalam bisu
hingga satu-satunya sanksi bisa mendengar teriakan itu hanyalah hatiku. Tak kuasa mengeluarkan suara. Aku merasa
tak kuat menahan semua beban yang menimpa dalam hidupku.
Setiap hari, aku mendengar keluh kesah orang tuaku
mengenai persoalan rumah tangga kakakku. Mereka terus menekanku untuk
memberikan mereka solusi. Tapi kenyataannya, aku dipaksa untuk mengikuti apa
yang mereka ucapkan. Saat aku
mengutarakan pendapatku yang kontras dan bertolak belakang dengan apa yang
diinginkan mereka untuk aku ucapkan, mereka seperti menutup telinga dan itu
membuatku tak tahu apa yang selanjutnya harus kulakukan.
Aku
selalu menjadi pelampiasan di saat orang tuaku marah kepada siapapun. Aku
selalu menjadi tameng untuk keluargaku. Terkadang, aku ingin keluargaku ingat
dan mengerti bahwa aku masih belum beranjak dewasa. Aku belum mengerti mengenai
persoalan-persoalan yang mereka ungkapkan. Pikiranku seperti benang yang sudah ruwet, pikiran-ikiran negatifku mengambil
alih pikiranku dan hatiku. Aku terus menangis dan terus menangis. Rasanya aku
ingin terus menangis bahkan saat aku terlelap dalam mimpi.
Beberapa
jam kemudian, aku menenangkan diri, berhenti menangis, dan aku mencoba untuk merenung.
Muhasabah, hal yang menurutku paling tepat kulakukan saat itu juga. Kuingat
perlahan-lahan, semenjak aku TK hingga ku beranjak SMA seperti sekarang ini.
Kuterus meningat-ingat bayangan episode dalam hidup layaknya film yang
diputarkan di depan mataku yang terpejam. Semakin kuingat, semakin kusadar,
bahwa apa yang terjadi sekarang dan apa yang kulakukan ataupun anggota
keluargaku lakukan dulu itu berhubungan dan selalu medapat balasan yang bisa
dikatakan sama atau setimbang.
Dulu,
kakakku suka mengejek orang-orang yang bertubuh mungil, dan sekarang kakakku
mendapatkan seorang istri yang bertubuh mungil juga yang bisa dikatakan 11:12
dengan orang yang selalu diejek kakakku. Dulu, mamaku suka membela kakakku walaupun
yang dilakukannya salah bahkan bisa mengancam mental dan fisik seseorang. Sekarang,
mental dan fisik kakakku terancam karena suatu hal dan mamaku sudah tak bisa
membela apapun lagi. Dulu, kakakku sangat membenciku karena aku lahir. Tapi
sekarang, kakakku sungguh menyayangiku. Dulu aku terisolasi dari dunia sosial
lingkungan sekitarku. Sekarang aku merupakan salah satu penghubung sosial bahkan
salah satu orang penting dari suatu keorganisasiaan di lingkunganku baik itu
masyarakat maupun sekolah. Dulu mamaku suka member kepada anak yatim, dan
sekarang Alhamdulillah keluargaku selalu diberi kecukupan.
Hal
ini membuat aku merasa bahwa episode-episode dalam hidupku terasa jika tali itu
mempunyai berat yang sama dan dari dua kutub yang berbeda, maka mereka akan selalu
mengikat satu sama lain. Mau itu hal yang baik maupun buruk. Hal itu selalu
diperhitungkan oleh Yang MahaKuasa.
Kubuka
mataku perlahan dan sujud atas rasa syukur kepada-Nya karena telah diberi
hidayah di dalam muhasabahku. Kulihat jam yang terdapat di meja riasku
menunjukkan pukul 12 malam. Karena lelah, aku pun menaiki kasurku, menyelimuti
tubuhku dengan selimut, dan tidur dengan lelap. Tentu aku tidak lupa untuk doa
terlebih dahulu.
Pagi
hari, aku melihat apapun yang aku atau orang-orang di sekitarku lakukan sebagai
suatu untaian tali yang akan mengikat masa
depan. Kata yang tepat untuk mengisi hal itu bisa disebut karma. Di sudut
pandangku, karma bukan hanya merujuk ke pembalasan yang buruk saja. Tapi karma
juga merupakan pembalasan dari sesuatu yang baik. Hal ini juga bisa dikatakan
bahwa “Karma itu adalah sebuah berkah dan sebuah musibah untuk manusia.”
Sekali
lagi ingat, ya. Karma itu ADAJ
_penulis_
.
*Cerita ini hanyalah fiktif belaka. apabila ada persamaan tokoh
atau kejadian, hal itu diluar pemikiran dan tanggung jawab penulis.
Nakia Mutiara
Insani R.
