Jumat, 17 Maret 2017



Ingat, Karma Itu ADA


https://www.pinterest.com/pin/462674561695223798/
source: https://www.pinterest.com/pin/462674561695223798/
Kupejamkan kedua mataku perlahan, kutarik nafas dalam-dalam sembari mengeluarkan dengan penuh khidmat. Dengan kesadaran yang masih kumiliki, kuingat kembali masa-masa terkelamku, masa-masa yang menyedihkan dalam hidupku hingga ku menangis tersendu dalam hatiku. Mataku melihat episode-episode itu,  Telingaku mendengar Teriakan bak bel sekolah yang rusak, hantaman tanpa henti. Telinga dan mataku yang malang, kau yang dulu putih menjadi abu kehitaman. Teringat dalam otakku bayang-bayang yang melemaskan seluruh organ tubuhku. Tanpa kusadari,bahwa semua yang kulihat, kudengar, dan kurasakan saat itu adalah apa yang mereka namakan-- Karma.

Sore sepulang sekolah, Nampak hujan dan petir tak henti-hentinya turun dan menyambar di langit berwarna biru kehitaman itu. Ketika sampai di rumah, aku merasa biasa saja dan aku pun tidak merasakan suatu keanehan di rumah berlantai dua itu. Seperti biasa, kudorong pintu dapur, masuk ke dalam rumah, aku juga tidak mendengar atau melihat sesuatu yang aneh sampai—

Suara teriakan sesosok wanita terdengar dari dalam rumah. Tanpa pikir panjang, aku langsung menuju ke arah sumber suara, ruang keluarga. Sampai disana, spontan kumelangkah ke belakang karena tak kusangka suara itu adalah suara wanita yang tak lain yaitu kakak iparku sendiri. Badanku tak kuasa bergerak sedikitpun, seperti tertanam es di ototku. Pesawat jet terasa menghantam jantung dan otakku. Sungguh tak percaya, hal seperti itu akan terjadi lagi di keluarga kecilku ini. Kulihat disamping kakak iparku terdapat mamaku yang memegangnya dan kakakku yang melotot tajam ke hadapan mereka dan tangannya yang meremas telapak tangan dengan erat. Merasa tak tega, berkat niat dan paksaan, kuretakkan es di ototku, kuhancurkan pesawat jet di bayanganku, dan ku berlari sembari memegang erat kakakku yang sedang emosi itu.

“Apa yang kakak lakukan?! Sudah Kak Istighfar, sholat dulu lalu berdoa. Tenankan dirimu kak. Kak Sepia juga, sholat dulu imaman sama Kakak. Dah ya sholat dulu. Tolong sekali ini saja dengarkan adekmu ini.” 

Ucapku dengan pelan agar tak menyakiti kedua belah pihak. Awalnya mereka menolak, tetapi akhirnya mereka setuju untuk melaksanakan ibadah wajib ini walau tidak berjamaah. 

Di waktu mereka sholat, aku menunggui Kak Sepia sembari kuterus berdoa dan berdzikir, meminta kepada Allah agar hal seperti ini tak terjadi lagi. Kuterus bedoa. Seusai Kakak iparku sholat, dia mengatakan untuk pulang ke rumah orangtuanya. Kaget, langsung kuhampiri dan kugenggam erat-erat sembari menatap lurus matanya dengan serius.

“Kak, lihat mata Tia. Kak, tau tidak. Yang selalu kuingat dalam keluarga kecil kakak yang hanya beranggotakan sepasang suami-istri itu bukan saat kalian berseteru seperti ini, bukan juga saat kalian saling berdebat kusir dan saling menjatuhkan satu sama lain. Tapi, di saat kakakku mengucapkan ijab qobulnya dengan lantang di depan semua orang termasuk Tia. Tia merasakan keseriusan dari suara kakakku. Dan Tia percaya bahwa kakakku sudah siap membuka pintu baru untuk kalian berdua. Ingat, kak. Jalan yang diberikan Allah tidak pernah salah, nantinya, pasti Allah akan memberikan episode terbaik untuk kakak. Karena Allah MahaAdil. Ya?” Kataku sambil tersenyum walau mataku berkaca-kaca.

Mendengar perkataanku, kakak iparku terlihat lebih tenang lalu menaruh IPhone nya ke tas dan tetap di mushola duduk sila di atas karpet berbulu itu. Dan pada akhirnya, mereka meminta maaf dan kembali bersama lagi walau masi ada kecanggungan di antara mereka. Kakak qiparku dan kakakku pamit karena waktu libur mereka usai dan harus kembali ke kota tempat mereka diwajibkan mengabdi di salah satu rumah sakitnya yaitu Kota Batam.

Larut malam, ketika keluargaku telah tertidur lelap, Aku menangis dengan keras. Tenggorokanku terasa kering, telinga dan wajahku memerah bak kepiting rebus bersamaan dengan seluruh badanku bergetar tanpa henti. Kelopak mata ini sudah tak bisa menahan air mata yang sudah kusimpan. Air mataku terus mengucur seperti air terjun yang membasahi seluruh daratan wajah ini. Kututup mulutku, aku teriak dalam bisu hingga satu-satunya sanksi bisa mendengar teriakan itu hanyalah  hatiku. Tak kuasa mengeluarkan suara. Aku merasa tak kuat menahan semua beban yang menimpa dalam hidupku. 

Setiap hari, aku mendengar keluh kesah orang tuaku mengenai persoalan rumah tangga kakakku. Mereka terus menekanku untuk memberikan mereka solusi. Tapi kenyataannya, aku dipaksa untuk mengikuti apa yang mereka ucapkan.  Saat aku mengutarakan pendapatku yang kontras dan bertolak belakang dengan apa yang diinginkan mereka untuk aku ucapkan, mereka seperti menutup telinga dan itu membuatku tak tahu apa yang selanjutnya harus kulakukan. 

Aku selalu menjadi pelampiasan di saat orang tuaku marah kepada siapapun. Aku selalu menjadi tameng untuk keluargaku. Terkadang, aku ingin keluargaku ingat dan mengerti bahwa aku masih belum beranjak dewasa. Aku belum mengerti mengenai persoalan-persoalan yang mereka ungkapkan. Pikiranku seperti benang yang sudah ruwet, pikiran-ikiran negatifku mengambil alih pikiranku dan hatiku. Aku terus menangis dan terus menangis. Rasanya aku ingin terus menangis bahkan saat aku terlelap dalam mimpi.

Beberapa jam kemudian, aku menenangkan diri,  berhenti menangis, dan aku mencoba untuk merenung. Muhasabah, hal yang menurutku paling tepat kulakukan saat itu juga. Kuingat perlahan-lahan, semenjak aku TK hingga ku beranjak SMA seperti sekarang ini. Kuterus meningat-ingat bayangan episode dalam hidup layaknya film yang diputarkan di depan mataku yang terpejam. Semakin kuingat, semakin kusadar, bahwa apa yang terjadi sekarang dan apa yang kulakukan ataupun anggota keluargaku lakukan dulu itu berhubungan dan selalu medapat balasan yang bisa dikatakan sama atau setimbang. 

Dulu, kakakku suka mengejek orang-orang yang bertubuh mungil, dan sekarang kakakku mendapatkan seorang istri yang bertubuh mungil juga yang bisa dikatakan 11:12 dengan orang yang selalu diejek kakakku. Dulu, mamaku suka membela kakakku walaupun yang dilakukannya salah bahkan bisa mengancam mental dan fisik seseorang. Sekarang, mental dan fisik kakakku terancam karena suatu hal dan mamaku sudah tak bisa membela apapun lagi. Dulu, kakakku sangat membenciku karena aku lahir. Tapi sekarang, kakakku sungguh menyayangiku. Dulu aku terisolasi dari dunia sosial lingkungan sekitarku. Sekarang aku merupakan salah satu penghubung sosial bahkan salah satu orang penting dari suatu keorganisasiaan di lingkunganku baik itu masyarakat maupun sekolah. Dulu mamaku suka member kepada anak yatim, dan sekarang Alhamdulillah keluargaku selalu diberi kecukupan.

Hal ini membuat aku merasa bahwa episode-episode dalam hidupku terasa jika tali itu mempunyai berat yang sama dan dari dua kutub yang berbeda, maka mereka akan selalu mengikat satu sama lain. Mau itu hal yang baik maupun buruk. Hal itu selalu diperhitungkan oleh Yang MahaKuasa. 

Kubuka mataku perlahan dan sujud atas rasa syukur kepada-Nya karena telah diberi hidayah di dalam muhasabahku. Kulihat jam yang terdapat di meja riasku menunjukkan pukul 12 malam. Karena lelah, aku pun menaiki kasurku, menyelimuti tubuhku dengan selimut, dan tidur dengan lelap. Tentu aku tidak lupa untuk doa terlebih dahulu. 

Pagi hari, aku melihat apapun yang aku atau orang-orang di sekitarku lakukan sebagai suatu untaian tali  yang akan mengikat masa depan. Kata yang tepat untuk mengisi hal itu bisa disebut karma. Di sudut pandangku, karma bukan hanya merujuk ke pembalasan yang buruk saja. Tapi karma juga merupakan pembalasan dari sesuatu yang baik. Hal ini juga bisa dikatakan bahwa “Karma itu adalah sebuah berkah dan sebuah musibah untuk manusia.”

Sekali lagi ingat, ya. Karma itu ADAJ
_penulis_
.
 *Cerita ini hanyalah fiktif belaka. apabila ada persamaan tokoh 
atau kejadian, hal itu diluar pemikiran dan tanggung jawab penulis.

Nakia Mutiara Insani R.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar